Tampilkan postingan dengan label PIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PIP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Hakekat Manusia dari Segi Sosiologi


Label: 


BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang Masalah
Adapun latar belakang penulis dalam mengerjakan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih jelas tentang hakekat manusia dari segi sosiologi dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan. Selain itu makalah ini dibuat sebagai materi presentasi kelompok kami.
1.2   Maksud dan Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
  1.  Mengetahui hakekat manusia dari segi sosiologi khususnya di Indonesia.
    1. b.  Menghubungkan antara hakekat manusia dalam segi sosiologi dengan kebutuhan pendidikan.
    2.  Agar mahasiswa mampu menjelaskan materi hakekat manusia dalam segi sosiologi dalam pendidikan.

HUBUNGAN ANTARA TEORITIS DAN PRAKTIS PADA ILMU PENDIDIKAN


Label: 

Pada dasarnya semua ilmu dapat dibagi menjadi 2 yaitu ilmu murni dan ilmu terapan.

Ilmu Murni
Ilmu Murni adalah ilmu yang membahas/ mendalami ilmu itu sendiri. Dalam pendidikan ilmu murni akan tampak dari adanya usaha untuk membahas teori-teori pendidikan secara dalam

Imu Terapan
Ilmu terapan adalah usaha-usaha menerapkan dalam kegiatan proses kehidupan (sebagai alat yang memudahkan kehidupan)

Perbedaan Ilmu Pengetahuan Murni dan Terapan:

* Ilmu Pengetahuan Murni berfokus kepada teori yang ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru.
            Misalnya, penelitian mata manusia.
* Sedangkan Ilmu Pengetahuan Terapan menempatkan teori-teori ke dalam praktek dengan tujuan mencari solusi dari sebuah masalah.
            Contohnya ketika diketahui bahwa mata dapat bermasalah, para ilmuwan berhasil menemukan kacamata. Melalui Ilmu Pengetahuan Terapan ini kita mendapatkan berbagai produk dan layanan baru, tetapi perkembangan ini berawal mula dari kemajuan dalam Ilmu Pengetahuan Murni.

HAKIKAT FENOMENOLOGI ILMU PENDIDIKAN


Label: 


Hakekat Fenomenologi

Fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon dan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Lorens Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak. Dalam arti sempit, ilmu tentang gejala-gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Edmund Husserl (1859 – 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam mengembangkan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi itu sendiri sudah ada sebelum Husserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764). Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen).